RSS

latar belakang desa werdhi agung

06 Jun

bagi dikit tentang latar belakang desa werdhi agung, mengapa sampai orang2 pulau dewata datang ke dataran dumoga……………

i kadek radha candra

Latar belakang Desa Werdhi Agung

                     Desa Werdhi Agung Sebagai desa Transmigrasi yang pertama Di Bolaang Mongondow Propinsi Sulawesi Utara mempunyai Latar belakang Sebagai berikut:
1. Bencana alam meletusnya Gunung Agung, yang terjadi pada hari Kamis Kliwon Wuku Warigadean Titi Tanggal Apisan, Sasih Palguna, Isaka Warsa 1885 (28 Pebruari 1963), Gunung Tohlangkir ( Gunung Agung ) jam tiga malam mulai mengeluarkan asap tebal dan menyemburkan api.Karena ketidaktahuan masyarakat bahwa itu adalah bencana, maka masyarakat sekitarnya banyak yang berjingkrak – jingkrak, bersorak sorai, seperti kegirangan dan berseru. Gunung Agung meletus ( beberapa kali ) besoknya baru mereka merasa ngeri, setelah mereka tahu ( mendapat berita ) bahwa Desa Subudi tertimpa lahar panas sehingga banyak rumah yang rusak, banyak binatang peliharaan yang mati dan orang yang meninggal banyak juga. dan banyak tejadinya meninggal misalnya di sebuah pura yang kebetulan mengadakan upacara keagamaan. Sekeha gong meninggal duduk dan kaku ( Tidak Rebah ) ada yang bersandar dan banyak yang tertimbun lahar, karena puranya sebagian tertimbun lahar. Hal ini saya lihat sendiri karena setelah kejadian itu, kami bersama Adat Negara pergi ke tempat kejadian dan menyuruh masyarakat yang masih hidup agar pergi mengungsi makanya saya ikut karena kebetulan rombongan yang mau ke lokasi kejadian ( di Desa Subudi ) melewati SR Geriana Kangin / Tempat saya bertugas sebagai Kepala Sekolah dan diperintahkan meliburkan anak – anak dan mengungsi.
                 Pada hari yang ketiga ( 2 Maret 1963 ) mulai terasa gempa bumi, hujan kerikil, hujan pasir, dan hujan abu yang sangat lebat ( tebal ) karena tebalnya abu, kira – kira pukul 8 pagi terjadilah gelap gulita yang lebih gelap dari bulan mati ( Tilem ) sehingga binatang – binatang peliharaan seperti ayam, bebek dan lainnya masuk kandang seperti mau tidur. Orang – orang jadi panic, rebut ( berteriak ) memanggil anak dan saudaranya, bingung dirasakan seperti dunia mau kiamat lalu banyak yang menyalakan lampu dan banyak yang menyalakan petromat. Orang – orang yang kebetulan dalam perjalanan terpaksa berhenti dan berjalan meraba – raba, sambil terus berteriak karena takut tabrakan. Syukurnya gelap itu terjadi tidak lebih dari satu setengah jam, tetapi hujan, petir dan abu terus, sehingga abunya pada atap dan lantai sampai tebalnya 15 atau 20 cm ( di Kecamatan Rendang ) hujan abu ini dirasakan sampai ke Surabaya. Setelah diselimuti kegelapan lalu menyusul terjadi hujan air yang beracun, sehingga tumbuh tumbuhan yang tersirami air hujan daunnya seketika menjadi merah seperti terbakar dan jika manusia yang terkena air hujan tersebut akan merasakan panas dan gatal-gatal, dan jika binatang yang kena ( sapi, kerbau, kuda dsb ) maka bulunya menjadi rontok ( gugur ) sehingga menjadi Burik ( Tultul ). Selanjutnya terjadi gempa yang dahsyat sambung menyambung sehingga banyak merobohkan rumah atau temboknya saja dan banyak tembok – tembok pekarangan yang rubuh ( roboh ). Setelah hujan racun, kemudian disusul hujan yang lebat yang menyebabkan lahar yang di puncak gunung maupun yang di lerengnya hanyut menjadi banjir lahar yang dahsyat memenuhi sungai sampai meluap dan merusak jembatan, sawah, ladang, rumah, banjar, pura dan segala sesuatu yang dilewatinya.
Tetapi pada waktu itu kami ( masyarakat Desa Pesangkan Duda Kecamatan Selat Karangasem belum merasakan cemas / takut, sehingga kami pergi ke sungai jalannya lahar yang dekat ( Tukad Sabuh ) dan menonton / melihat banjir lahar yang dahsyat itu. Jika ada pohon kayu atau kelapa yang berada di pinggiran sungai ditempuh / dilanggar lahar, pohon tersebut akan hanyut sampai akar dan pangkalnya, sehingga kelihatan tegak berdiri ( berjalan ) sampai kira – kira 15 m baru jatuh ( roboh ). jika batu besar yang kira – kira 1m3 ( satu meter persegi ) akan hanyut seperti mengambang kelihatanya. Lahar yang melintasi sungai itu kebanyakan sudah dingin tetapi masih ada juga lahar yang masih panas sehingga masih mengeluarkan asap hitam yang tebal. Tetapi masih ada sungai yang lain yang banjirnya merupakan banjir lahar panas ( lahar api ) yang merah yaitu di Tukad Barak. Pada hari yang ke tiga ( 2 maret 1963 ) sungai yang di lewati lahar baru tiga sungai yaitu Tukad Sabuh, Tukad Barak, dan Tukad Yehsah.
Karena dahsyatnya letusan maka pemerintah dengan petugas alat negaranya memerintahkan / meneriakkan dan mencari masyarakat yang berada di wilayah yang berbahaya, agar pergi mengungsi ke daerah yang aman. Termasuk Desa Geriana Kangin, tempat SR, tempat kami / saya bertugas. Setelah beberapa sungai lagi menjadi /dilewati jalannya lahar, yaitu : Tukad Sabuh, Tukad Kalangidi, Tukad Nyoling Tukad Barak dan Tukad Yesah (di Kecamatan Selat Kabupaten Karangasem yang kami sebut berurut dari timur ke barat). Semua sungai itu bersatu ( mencampur ) dengan Tukad Unda. Karena Tukad Unda bermuara ke Kelungkung ( antara Desa Kusamba dan Tangkas, maka persawahan ( sawah – sawah / Desa Kusamba banyak yang tertimbun kerikil dan pasir. Pura Tangkas yang dekat dengan sungai Unda tertimbun pasir dan kerikil sampai /sehingga masih kelihatan hanya puncaknya /mudranya saja.
Dengan demikian, maka areal sirkel 3 Km. dari Gunung Agung dinyatakan wilayah berbahaya termasuk seluruh Kecamatan Selat, juga Desa kami / saya ( Pesangkan) dan sekitarnya. Karena demikian maka kami ( dengan anak istri ) dan penduduk desa lainnya mengungsi ke Kecamatan Manggis yaitu Desa Sengkidu.
Di kota Karangasem ( Amblapura ) sungai / tukad Mbahapi dan tukad Yangga dilewati / menjadi jalannya lahar, yang termasuk di dalam kota sehingga Kantor Bupati dan Rumah Sakit, termasuk rumah, Pura dan Masjid sekitarnya hanyut tanpa kelihatan bekas karena tertimbun lahar. Demikian pula Desa Sobangan banyak tertimbun batu, kerikil dan pasir. Karena terjadinya letusan / muntahan lahar sangat dahsyat dan lama ( berbulan – bulan ) yang mengakibatkan banjir lahar berulang – ulang dan memakan korban sangat banyak dan dalam areal yang luas, maka bencana alam Gunung Agung dinyatakan bencana alam Nasional. Mengetahui desa yang di lereng Gunung Agung / atau desa yang berbahaya misalnya Desa Sorga, Subudi, Santi, Abyantiying, Sukaluih, Sebum, Presane, Untalan dan Badeg. Yang dipangkal gunung dekat dengan sungai jalannya lahar misalnya; Desa Griana Kangin, Griana Kauh, Tanah Ampo, Pesangkan Duda, Bambangkaung dan Selat ( Kecamatan Selat ), Sidemen ( Kec. Sidemen ), Sobangan ( Kecamatan Karangasem ). Karena bencana alam Gunung Agung dinyatakan Bencana Nasional maka, dibentuklah panitia / badan yang disebut KOGA ( Komando Operasi Gunung Agung) berpusat di bawah Mentri Sosial Propinsi / di bali di bawah pimpinan Bapak Gubernur dan di Kabupaten di bawah pinpinan Bapak Bupati. KOGA ini mengurus para pengungsi, menerima dana bantuan dan membagikannya pada para pengungsi. Bantuan berupa sandang pangan dan obat – obatan dan lainnya ( misalnya tenda ) mengalir datangnya dari Propinsi lain dan dari Mancanegara. Dana itu oleh KOGA dibagi / disalurkan kepada para pengungsi, yang kebanyakan sudah tidak punya apa – apa, karena harta bendanya tertimbun lahar atau karena lari dengan pakaian di badan saja untuk menyelamatkan jiwanya. Para pengungsi banyak pula yang mengungsi pergi pada keluarganya di lain Kabupaten, ialah Kecamatan Manggis yaitu Desa Manggis sendiri, Pulakan, Sengkidu. Para pengungsi ditampung di banjar – banjar dan di rumah – rumah warga. Demikian pula pusat Pemerintahan Kabupaten Karangasem diungsikan / dipindahkan ke desa Ulakan. Saya sebagai Kepala SR Geriana Kangin dengan Bapak I Wayan Gadra sebagai Kepala SR Duda dan Bapak I Nyoman Alit sebagai guru SR 1 Karangasem ( yang dekat sungai Jangga ) yang ikut mengungsi, maka kami ditugaskan sebagai anggota KOGA Kabupaten Karangasem yang ikut mengatur dan mengurus pengungsi. Karena bencana alam Gunung Agung berkepanjangan, sehingga para pengungsi lama di pengungsian, maka pemerintah menggalakkan transmigrasi, sehingga para pengungsi ( warga Bali Durpa) banyak yang bertransmigrasi dan berangkat dari pengunsian, ada banyak ke Sumatra, ke Kalimantan, Irian Jaya,dan ada ke daerah lainya.
2. Pada pertengahan Bulan Juni 1963, Bapak Marayasa dan Olii ( Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow ) bersama Bapak Mayor Ichdar ( Komandan Kodim Kotamobagu ) Propinsi Sulawesi Utara datang ke Bali, meminta kepada Bapak Gubernur Bali ( Bapak Gusti Bagus Suteja) agar diberikan transmigrasi bencana Gunung Agung ( transmigrasi asal bali) dan masyarakat / warga pengungsi untuk transmigrasi ke Kabupaten Bolaang Mongondow Propinsi Sulawesi Utara. Bapak Gubernur Bali memberikan / menyetujui sehingga kami ( I Nyoman Alit, I Wayan Gadra, dan I Nyoman Marayasa ) sebagai anggota KOGA diberikan tugas untuk memberikan tugas kepada warga Bali Durpa yang berada di pengunsian, agar suka / mau bertransmigrasi ke Sulawesi Utara. Kami sebagai petugas KOGA menerangkan bahwa di Sulawesi Utara Tanah ( lahannya ) sudah siap / ada, hanya tinggal membuat pematang saja. Sesuai pemberitahuan / kata Bapak Bupati Bolaang Mongondow. Tetapi masyarakat warga pengungsian setelah diberikan penyuluhan maka, mereka menyatakan mereka mau Transmigrasi ke Sulawesi Utara kalau kami bertiga / turut ke sana. Jadi mereka minta sarat agar kami ikut pergi bersamanya. Kami sebagai petugas KOGA dan sebagai guru ( PNS ) maka, kami dan beserta ( ditambah ) empat ( 4 ) guru lagi ( I Nengah Puspada, I Wayan Mukti, I Wayan Nuraksa, dan I Gusti Made Sudarsana) minta ijin kepada Bapak Kepala Dinas P dan K Propinsi Bali dan kepada Bapak Kepala Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Bali, untuk ikut transmigrasi ke Sulawesi Utara bersama warga pengungsian. Beliau – beliau tersebut mengizikan dan kami dilepas oleh Bapak I Gusti Lanang Rai sebagai KORMISI ( Kordinator Administrasi Kanwil P dan K Propinsi Bali ) di Kubujati pada tanggal 30 Juli 1963, pada waktu keberangkatan transmigrasi ke Sulawesi Utara.

Sumber: I Nyoman Marayasa

Dicopy dari 

 
Leave a comment

Posted by on June 6, 2013 in UMUM

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Korean Wave Indonesia

The Friendliest Newsbase For Korean Wave Fans in Indonesia

KHAIRUL'S BLOG

Sebaik-baik manusia, yang banyak memberikan manfaat pada orang lain

%d bloggers like this: