RSS

sejarah desa werdhi agung

06 Jun

share dikit nich tentang sejarah desa ku

i kadek radha candra

Sejarah Desa Werdhi Agung di Sulawei Utara

Komunitas multiagama, Hindu, Islam, dan Kristen di pedalaman Sulawesi Utara, hidup bersama tanpa konflik. Mereka adalah para transmigran dari Jawa dan Bali. I Nyoman Marayasa masih ingat betul ketika Gunung Agung me-letus pada 1963. Letusan gunung setinggi 3.000 meter di Karangasem, Bali, itu melahirkan awan panas dan menumpahkan lahar pada empat kecamatan. Tanaman dan ternak, tumpas. Lebih dari seribu orang tewas. ”Letusannya dahsyat, debunya sampai ke Yogyakarta,” ujar laki-laki yang akrab dipanggil Mare itu.Bangunan sekolah dasar di Desa Griyana Langen, tempat dia bekerja sebagai guru, juga luluh lantak. Tapi, Mare pantang tenggelam dalam duka. Dia mengelola pasokan logistik dari pemerintah, mengurus tempat tinggal, dapur umum, hingga mengatur pembangunan jamban di tempat pengungsian. ”Sejak itu saya dipercaya sebagai koordinator warga,” ujar Mare.Ketika itu, datanglah tamu dari jauh. Dialah Manuel Ikhdar, Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Manuel menawarkan lahan perawan yang terbentang luas di daerah asalnya. ”Tanah siap, kalian tinggal mengolah,” ujar Manuel saat itu. Mare separuh tak percaya. Mana mungkin ada tanah siap pakai di daerah yang baru dibuka. Mare diminta membujuk warga setempat untuk pindah. Pengungsi yang kehilangan ha-rapan itu pun manut. ”Kalau bapak ikut, kami mau,” kata mereka. Maka, dimulailah lembaran baru. Sekitar 531 kepala keluarga atau 1.352 jiwa bedhol desa ke daerah berjarak ribuan kilometer dari kampung mereka. Petani, nelayan, guru, dan tukang ukir pindah ke Lembah Dumoga, sekitar 200 kilometer dari Manado. Tepat seperti dugaan Mare, di sana tak ada tanah siap olah, melainkan hutan be-lantara. Ya, setengah tahun lebih me-reka membabat alas itu. ”Satu pohon besar dipotong 28 orang,” Mare me-ngenang. Tapi, kerja keras itu tak sia-sia. Bermodal kapak dan pil kina—wabah malaria sangat hebat waktu itu—penduduk Karangasem menyulap hutan lebat menjadi kampung Bali yang permai. ”Kami beri nama Werdhi Agung,” ujar Mare. Kini tanah Lembah Dumoga yang subur itu rimbun dengan tanaman kelapa, cengkeh, dan padi. Pura berukir batu dan kayu pun ikut tumbuh subur di sana.Sumber berita; http://www.pustakalewi.net/detail.asp?section=rubrikberitadetail&rubrikberitamingguanid=778

di desa werdhi agung….Arsitektur bercorak Hindu dengan pura masih terasa kental. Itu menjadi warisan budaya yang temurun hingga hampir setengah abad sejak meninggalkan kampung halaman pada 1964. Desa Werdhi Agung menjadi pusat budaya transmigran asal Negeri Dewata itu.Selebihnya, selain bertani dan beraktivitas seperti biasa. Seni ukir dan warisan seni tari tetap terjaga hingga generasi ketiga. Pendek kata, begitu memasuki Werdhi Agung langsung terasa suasana Bali. Bangunan berbentuk endominasi desa transmigran pertama di Dumoga itu, termasuk bangunan tempat tinggal.

Nuansa religius juga terasa. Setiap pekarangan rumah terdapat tempat sembahyang, dengan menempatkan Pura Besar Pusah di tengah desa menjadi poros hubungan dengan sang pencipta jagad raya. Tak heran, setiap ukiran yang terpahat menjadi corak bangunan pura itu mengandung makna filosofis sendiri.

Menurut Nyoman Mariyasa, Tokoh Adat Werdhi Agung, ada tiga bentuk bangunan yang berciri filosofi Hindu Bali. Pertama corak Candi Bentar, yakni terdapat dua candi terpisah. Ini banyak digunakan warga menjadi pilihan corak bangunan pintu gerbang.

Lalu Candi Gelung. Bentuknya dua candi menyatu membentuk gapura. Ini mewujud dalam pura. Corak ketiga yakni Angkul-angkul. “Ini di perumahan dijadikan (bentuk) pintu gerbang pekarangan,” terang Mariyasa. Menilik bangunan pura menurut Wayan Surata, Juru Mangku Pura Besar Pusah, identik dengan ritual ibadah di Bali.

Katanya, pura tempat pemujaan kepada Trimurti Hindu. “Ada tiga ruangan, merupakan satu keutuhan, tapi ada tiga,” jelasnya. Brahma mencipta, Wisnus memelihar dan Siswa mengembalikan ke asal. Begitu juga dengan kasta, meski masih lestari namun tidak sekental aslinya. Ada empat strata sosial.

Yakni Brahmana seperti guru dan pendeta. Ksatria buat prajurit atau perangkat desa. Waysa untik pedagang dan Sudra bagi mereka yang berkutat di pertanian. Namun sebut Surata, penerapannya sudah disesuaikan hanya berdasarkan profesi saja, tanpa membedakan status sosialnya.

“Tapi, sekarang sudah ada penyesuaian aktivitas dan perannya,” jelas Surata yang menjabat pemangku adat di Pura Besar Pusah.

Begitu juga dengan keyakinan, meski mayoritas masih Hindu namun sejumlah warga juga bebas memeluk keyakinan berbeda. Sebagian besar akibat proses perkawinan dan pekerjaan. “Perkawinan membuat warga transmigram membaur dengan cepat, dan pekerjaan faktor yang berperan,” ungkap I Nyoman Sudharta, Ketua PHDI Werdhi Agung.

Meski demikian, tradisi tetap berjalan seperti hadirnya Pecalang di setiap perayaan keagamaan seperti Nyepi. Pendidikan berandil terhadap lestarinya tradisi budaya itu. Sejumlah sekolah menyesuaikan kurikulum ajarnya. I Gusti Made Alit, Wakil Kepala SMP Swadarma mengatakan, muatan lokal disesuaikan dengan kebudayaan lokal.

“Jadi ada kurikulum Swadarma Werdhi Agung sepertu seni tari Bali, seni ukir,”

jelasnya seraya menyebut beberapa di antaranya, yakni Tari Panyem Brame yang berfungsi penyambutan. Muatan lokal lainnya bahasa Bali, pembuatan sajen, menghias sajen dan seni gamelan khas Bali yakni Blaganjur. Kini bahkan, warga mengusahakan berdirinya Sekolah Tinggi Agama Hindu Gema Totabuan yang sedang proses perizinan.

Seiring waktu dan alaminya proses pembauran, sejumlah transmigran banyak duduk di posisi penting. “Hanya di Bolmong Raya, setiap sambutan ada salam dalam bahasa Bali. Om Shanti Shanti Om,” ungkapnya.( ngutip tribun medan )

 
2 Comments

Posted by on June 6, 2013 in UMUM

 

2 responses to “sejarah desa werdhi agung

  1. iyok's

    October 27, 2013 at 8:58 am

    Komunitas multiagama, Hindu, Islam, dan Kristen di pedalaman Sulawesi Utara, hidup bersama tanpa konflik. Mereka adalah para transmigran dari Jawa dan Bali. I Nyoman Marayasa masih ingat betul ketika Gunung Agung me-letus pada 1963. Letusan gunung setinggi 3.000 meter di Karangasem, Bali, itu melahirkan awan panas dan menumpahkan lahar pada empat kecamatan. Tanaman dan ternak, tumpas. Lebih dari seribu orang tewas. ”Letusannya dahsyat, debunya sampai ke Yogyakarta,” ujar laki-laki yang akrab dipanggil Mare itu.Bangunan sekolah dasar di Desa Griyana Langen, tempat dia bekerja sebagai guru, juga luluh lantak. Tapi, Mare pantang tenggelam dalam duka. Dia mengelola pasokan logistik dari pemerintah, mengurus tempat tinggal, dapur umum, hingga mengatur pembangunan jamban di tempat pengungsian. ”Sejak itu saya dipercaya sebagai koordinator warga,” ujar Mare.Ketika itu, datanglah tamu dari jauh. Dialah Manuel Ikhdar, Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Manuel menawarkan lahan perawan yang terbentang luas di daerah asalnya. ”Tanah siap, kalian tinggal mengolah,” ujar Manuel saat itu. Mare separuh tak percaya. Mana mungkin ada tanah siap pakai di daerah yang baru dibuka. Mare diminta membujuk warga setempat untuk pindah. Pengungsi yang kehilangan ha-rapan itu pun manut. ”Kalau bapak ikut, kami mau,” kata mereka. Maka, dimulailah lembaran baru. Sekitar 531 kepala keluarga atau 1.352 jiwa bedhol desa ke daerah berjarak ribuan kilometer dari kampung mereka. Petani, nelayan, guru, dan tukang ukir pindah ke Lembah Dumoga, sekitar 200 kilometer dari Manado. Tepat seperti dugaan Mare, di sana tak ada tanah siap olah, melainkan hutan be-lantara. Ya, setengah tahun lebih me-reka membabat alas itu. ”Satu pohon besar dipotong 28 orang,” Mare me-ngenang. Tapi, kerja keras itu tak sia-sia. Bermodal kapak dan pil kina—wabah malaria sangat hebat waktu itu—penduduk Karangasem menyulap hutan lebat menjadi kampung Bali yang permai. ”Kami beri nama Werdhi Agung,” ujar Mare. Kini tanah Lembah Dumoga yang subur itu rimbun dengan tanaman kelapa, cengkeh, dan padi. Pura berukir batu dan kayu pun ikut tumbuh subur di sana.

    Who create this stupid story….all already modify!!!!
    it’s totally fake story….. stop on making this bull shit i have been several times commented this story why it’s being recopied again….. i am a part of Werdhi Agung and this story is not true many people suppose to be mentioned inside that was very important for this successful history.

     
    • radhacandrabb

      November 10, 2013 at 4:53 am

      mnurut sumber yang saya dpt cuma itu yg di tuliskan,, mmng sich dlam pembangunan suatu desa, tak mungkin hnya krna satu org, trus dpt berdiri sebuah desa yag indah, tetap ada di balik semua itu, ada orng2 yg penting lainnya yang tergabung dlam misi ini,,
      dan ini kan hnya diambil sumber dri satu pihak, bukan satu desa….
      bisakah anda mnyebutkan nama?

      saya memposting ini karena saya bangga dengan desa saya, saya lahir dan besar di sana mnjadi sperti sekarang ini tak lepas dri pengaruh desa yang amat kntal dengan kbudayaan dan persaudaraan i2……

      apa anda ikut di dalam kisah pembangunan desa werdhi agung sejak awal sampai2 anda bilang ini cerita bodoh yg sudah d modifikasi?

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Korean Wave Indonesia

The Friendliest Newsbase For Korean Wave Fans in Indonesia

KHAIRUL'S BLOG

Sebaik-baik manusia, yang banyak memberikan manfaat pada orang lain

%d bloggers like this: